Pengajar FEB Untag Pembicara Webinar Prospek Ekonomi Pasca-vaksinasi Covid-19

Selasa, 26 Januari 2021

Administrator

Fakultas

Dibaca: 88 kali

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Untag Semarang Dr. Tri Widayati SE Msi pada tanggal 21 Januari 2021 menjadi nara sumber webinar dengan tema tema ‘‘Prospek Ekonomi Pasca-vaksinasi Covid-19". Acara yang diselenggarakan oleh Suara Merdeka tersebut berlangsung dalam format Ngobrol Virtual secara online melalui aplikasi Zoom, bersama-sama dengan pakar-pakar dari berbagai perguruan tinggi di Semarang dan Yogyakarta.

Paparan yang disampaikan mengambil judul “Geliat UMKM dan Peran Wanita dalam Pengembangannya di Masa Pandemi dan Setelah Vaksinasi Covid-19. Dalam presentasinya, Dr. Tri Widayati menjelaskan peran UMKM dalam perekonomian Indonesia antara lain: kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor, penyedia lapangan kerja yang terbesar, pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat, pencipta pasar baru dan sumber inovasi, dan sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor.

Lebih lanjut dijelaskan UMKM di masa pandemi menjadi salah satu korban paling parah akibat pandemi Covid-19, yang telah berlangsung enam bulan dan belum jelas kapan berakhirnya. Padahal jumlah mereka sangat banyak, 60 juta orang lebih. (data tahun 2020 : 63-64 juta). Berdasarkan Survei Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha yang digelar 10-26 Juli 2020, menemukan 42 persen pelaku usaha hanya dapat bertahan selama tiga bulan, yaitu sejak Juli sampai Oktober 2020. Sedangkan 58 persen lainnya masih bisa bertahan di atas 3 bulan. Estimasi ini muncul bila tidak ada perubahan operasional dan intervensi dari pemerintah. Survei dengan responden 34.559 pelaku usaha terdiri dari 25.256 usaha mikro dan kecil (UMK), 6.821 usaha menengah dan besar (UMB), dan 2.482 di sektor pertanian. Survei yang sama menyebut, ada pelbagai bantuan yang dibutuhkan pelaku usaha. Bagi UMK, yang paling dibutuhkan adalah modal usaha yaitu sekitar 69,02 persen. Mereka juga perlu bantuan berupa keringanan tagihan listrik (41,18 persen); relaksasi pembayaran pinjaman (29,98 persen); penundaan pembayaran pajak (15,07 persen); dan kemudahan administrasi pengajuan pinjaman (17,21 persen).

Sehubungan dengan geliat pengusaha perempuan Indonesia, Dr. Tri Widayati menyebutkan 43% UMKM formal dimiliki perempuan, dengan menyumbang 9,1% PDB Indonesia. Namun demikian, Beban pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) wanita tiga kali lebih berat dibanding laki-laki sejak pandemi korona mewabah. Selain itu Masih adanya ketimpangan gender juga mempengaruhi kesempatan ekonomi wanita Indonesia. Ini terlihat dalam pendanaan dan penyediaan modal yang masih diskriminatif pada pengusaha wanita.

Pada akhir presentasi, Dr. Tri Widayati menyimpulkan bahwa kunci utama UMKM agar bisa bertahan adalah kemampuan merespons perubahan tren yang terjadi karena pandemi. Pelaku UMKM juga dituntut untuk memiliki business mindset dan jiwa kompetitif yang kuat serta daya kreativitas yang terus diasah agar dapat beradaptasi dan melakukan berbagai inovasi dalam menghadapi persaingan di bisnis online. Sehubungan dengan strategi pemberdayaan pengusaha wanita, dibutuhkan mental pengusaha yang kuat. Selama ini wanita Indonesia masih memiliki mental pedagang, bukan mental pengusaha.

 

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas