FEB UNTAG Semarang Selenggarakan Seminar Online Daya Tahan Organisasi di Masa Pandemi

Memperingati hari pendidikan nasional, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UNTAG Semarang melaksanakan seminar internal online melalui platform Google Meet, beberapa waktu yang lalu 15-05-2020. Mengambil tema “Daya Tahan Organisasi di Masa Pandemi Covid-19” seminar menghadirkan tiga dosen.

Narasumber pertama Dr. Adi Eko Priyono MSi mengangkat topik “daya tahan UMKM di masa Covid-19”. Menurut dosen yang juga Direktur Eksekutif Budi Santoso Foundation, saat ini terdapat 62,9 juta UMKM dimana 61,8 juta adalah usaha mikro  dengan omzet < Rp 300 juta/tahun. Data menunjukkan 83% UMKM mengalami penurunan penjualan, 17% bertahan dengan omset kurang dari 50%, 52 juta UMKM menghentikan usaha yang berpotensi menimbulkan pengangguran 99 juta / 37,7% penduduk, dan 78% karena permintaan turun sisanya 21,2% karena faktor bahan baku dan distribusi. Khusus di Jawa Tengah permasalahan utama yang dihadapi 19.265 UMKM adalah pemasaran, diikuti pembiayaan, bahan baku, produksi, dan lainnya. Di sisi lain UMKM masih memiliki kewajiban biaya produksi (gaji karyawan dan pembelian bahan baku), kredit bank dan sewa tempat usaha, dan biaya operasional (administrasi, promosi, listrik, dll). Menghadapi kondisi tersebut dirinya menawarkan tiga solusi kepada UMKM, yaitu melakukan online marketing, diversifikasi produk, dan efisiensi seperti pengurangan karyawan dan biaya operasional. Solusi lainnya adalah menghidupkan pasar serta relaksasi kredit. Pada akhirnya daya tahan UMKM di masa pandemi akan tergantung pada seberapa kuat cadangan dana, loyalitas konsumen, serta jejaring bisnis, karena sampai kapan Covid-19 berlalu tidak ada yang tahu.

Tampil sebagai pembicara kedua adalah Dr. Emiliana Sri Pudjiarti  SE MSi yang mempresentasikan makalah “Learning Agility, Membangun Performansi di Masa Pandemik Covid 19”. Menurut pembicara, adanya  pandemic Covid  19 menemukan momentum lebih awal guna menanggapi Revolusi Industri 4,0. Strategi diperlukan organisasi dalam bertahan adalah out of the box (keluar dari zona nyaman), terus belajar sepanjang masa, kemampuan   yang berbeda berimplikasi pada  variasi di dalam solusi pembelajaran,  tidak ada solusi tunggal, perubahan pendidikan yang massif dan fundamental menuntut cara berfikir dan solusi yang tidak biasa, memerlukan  kerjasama yang solid, proses mental, sharing, team work, budaya belajar dibangun dalam situasi yang rumit dan kompleks.

Narasumber ketiga adalah Dr. Suparjo MP dengan topik “Penguatan kinerja PTS
di masa pandemi". Menurutnya agar organisasi berhasil, maka perlu menggunakan Critical Success Factors - CSF (faktor keberhasilan utama) yang mengindikasikan kesuksesan kinerja unit kerja organisasi. Area CSF ini menggambarkan preferensi manajerial dengan memperhatikan variabel-variabel kunci finansial dan non-finansial pada kondisi waktu tertentu. Identifikasi terhadap CSF dapat dilakukan terhadap berbagai faktor misalnya, potensi yang dimiliki organisasi, kesempatan, keunggulan, tantangan, kapasitas sumber daya, dana, sarana-prasarana, regulasi atau kebijakan organisasi, dan sebagainya. Untuk PTS, indikator CSF meliputi: layanan berkualitas dan tepat waktu, pegawai yang bermutu tinggi dan terlatih, dosen yang berkualitas, sistem pengajaran yang efektif dan efisien, kelengkapan sarana dan prasarana. Kesemuanya terangkum dalam pengembangan indikator kinerja meliputi: biaya pelayanan (cost of service), penggunaan (utilization), kualitas dan standar pelayanan (quality and standards), cakupan pelayanan (coverage), dan kepuasan (satisfaction).

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas